Assalamualaikum gaesss...
Hari ini tanggal 13 Februari 2019
Kali ini, saya pengen banget
berbagi sebuah tulisan keren banget dari mas Ishaq Ahmad di bukunya dengan
judul The Power Of Good Love. Saya
tertarik dengan bagian Teladan Cinta Rasulullah Saw di halaman 73-85. Kita
sering banget baper-baperan gak jelaskan??, padahal gak ada guna gunanya tauk..
ini ngatain diri sendiri juga sih kadang, tapi ya sama samalah kita perbaiki
hati kita yah, biar diisi sama orang-orang yang tepat.. kita tata hati kita..
shippppp... jadi tulisannya seperti ini kurang lebih..
“Sesungguhnya Allah Subahanna Wa Ta’alla mencintai orang-orang yang
bertaubat dan mencintai orang-orang yang suci.” (Qs: Al Baqarah: 222)
Rasulullah Muhammad Saw sang
pribadi santun yang menyingkap tirai kegelapan dunia menuju cahaya Hidayah dan
Rahmat bagi umatnya. Meskipun telah berabad-abad lamanya beliau meninggalkan
kita, namun teladan, tuntunan dan risalah yang dibawanya selalu menjadi pelita
kehidupan bagi seluruh penjuru dunia. Kebersihan hatinya memperindah cara
berpikir dan bertindak. Setiap langkah dan bahasa tubuhnya selalu memukau orang
lain. Di manapun berjumpa, dengan siapa saja, beliau selalu menebar senyum dan
menyenangkan bagi semua orang yang memandangnya.
Indahnya cintamu, Ya Rasul...
Rasulullah Saw, manusia termulia
yang pernah ada di dunia ini. Yang keberadaannya menebar kebaikan dimanapun
beliau berpijak. Ketika mendapatkan perintah untuk hijrah ke kota Madinah,
beliau disambut oleh para penduduk Mandinah dengan ramah tamah. Seluruh
penduduknya berebutan menginginkan agar beliau berkenan singgah atau menempati
rumah mereka untuk dijadikan rumah singgah sementara selama hijrah di Madinah.
Dengungan alunan indah Shalawat
Badar terdengar sayup-sayup, “Shalatullah
Salamullah Alla Thohaa Rasulullah, Shalatullah Salamullah Ala Yasiin Habibillah.”
Seakan menggema di penjuru kota itu. Gegap gempita masyarakat Madinah
kegirangan mendapat tamu spesial sang juru selamat, salah satu penghulunya para
nabi yang kehadirannya banyak dinanti-nantikan seluruh umat.
Rasulullah Saw mempunyai sikap
yang bijaksana dalam melakukan berbagai kegiatan dakwah; misi hidupnya sebagai
utusan Allah Swt. Pribadi luhur yang menyadari bahwa tanggung jawabnya adalah
menyampaikan risalah Tuhannya, agar para manusia mengetahui yang benar dan yang
salah, serta mengajarkan umatnya tata cara berakhlaq yang mulia.
Beliau sangat ulet dan tidak
mudah putus asa dalam berdakwah. Tak ada kekerasan, benci dan dendam meskipun
suatu hari beliau dilempari kotoran unta oleh kaum kafir Quraisy. Bukan
perasaan dendam yang ada dalam hatinya, sebaliknya untaian doa yang dipanjatkan
pada Yang Kuasa agar mereka yang berbuat zalim kepadanya diberikan kesadaran
dan ampunan Allah swt. Sungguh, suatu teladan bijaksana yang patut untuk
dijadikan landasan umat manusia agar selalu menebar cinta, kasih sayang dan
persaudaraan.
Inilah potret cinta sejati yang
dicontohkan oleh Rasulullah saw. Selalu mengutamakan persaudaraan bukan
permusuhan. Yang beliau idam-idamkan adalah bersatunya seluruh umatnya dalam
bendera panji-panji islam. Bahkan, menjelang runya dicabut oleh malaikat izrail
atas perintah Allah Swt, yang terlintas dalam pikiran beliau adalah nasib
umatnya. : Ummati.. Ummati.. Ummati..”
Subahannallah, sungguh teramat
cintanya Rasulullah kepada kita, hingga yang dapat melegakan pikirannya disaat
akan berpulang kepada pangkuan ilahi adalah jaminan keselamatan umatnya kelak.
Menghadapi dahsyatnya sakit sakaratul maut, beliau memohon kepada Allah agar
rasa sakit rasa sakaratul maut yang sungguh luar biasa cukup ditimpakan
kepadanya dan jangan ditimpakan kepada umatnya.
Begitu besarnya cinta beliau
kepada kita, namun jarang sekali diantara kita yang sejenak menyempatkan diri
melantunkan doa Shalawat kepadanya. Kebanyakkan kita lebih sering mengingat
dengan si Doi atau gebetan yang ganteng bin gemesin daripada Nabi Muhammad
saw... hmmmmmm...
Padahal perjuangan beliau Saw
untuk menyelamatkan seluruh umatnya tak akan mampu kita bayar dengan segala
kekayaan yang kita punya. Ingatlah, sejatinya Rasulullah tak mengharapkan
didoakan oleh kita, karena beliau adalah pribadi yang ma’shum (tak mempunyai
sedikit pun dosa). Namun, dengan membaca Shalawat untuk beliau, itu adalah
salah satu cara kita mendekatkan diri kepada Allah swt dan Allah akan
menurunkan rahmatNya kepada kita.
“Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah saw bersabda: Barangsiapa membaca
Shalawat kepadaku satu kali, maka Allah akan menurunkan rahmat kepadanya
sepuluh kali.” (HR Muslim).
Betapa bahagianya seseorang yang
dianugerahi rahmat Allah. Karena dengan rahmat-Nya seseorang takkan pernah
sengsara jauh dari musibah dan malapetaka. Di dunia bahagia di akhirat ia masuk
surga, bahkan dalam riwayat lain ada yang menjelaskan bahwa dengan membaca
Shalawat kepada Rasulullah, maka akan dibalas dengan sepuluh kebaikan dan
dihapus sepuluh keburukan.
Sebagaimana disampaikan dalam
hadits ibnu Hibban, “Barangsiapa yang
membaca shalawat untukku dari umatku, maka dicatat baginya sepuluh kebaikan dan
dihapus daripadanya sepuluh keburukan”.
Ini merupakan wujud dari
keistimewaan umat Rasulullah Saw, berkah dari pancaran sinar cintanya kepada
umatnya. Allah memberikan kemurahanNya kepada siapa saja umat beliau Saw yang
mau mengikuti ajaran yang dibawanya dan mau melantunkan Shalawat kepadanya.
Indahnya Syafaatmu, Ya Rasul...
Sahabatku, mari sejenak kita
renungkan beberapa hal.
Pertama, suatu ketika nanti
disaat para nabi dituntut untuk memberikan syafa’at kepada umatnya, tak ada
satu pun nabi yang sanggup memberikannya kecuali Rasulullah Saw.
Kedua, andaikata di dunia ini
Muhammad bin Abdullah tak lahir, tentu nasib manusia akan berada dalam keadaan yang
gelap gulita, jauh dari kebenaran karena tak ada yang memberikan tuntutan ke
jalan yang benar.
Ketiga, tentu kita pernah
mendengarkan keterangan dari Pak Kiyai yang menukil sebuah hadits bahwa
andaikata tidak ada Nuur Muhammad, maka dunia ini tak akan diciptakanNya. Oleh karena
itu, masihkah kita mendustakan risalah yang dibawanya? Beratkah kita membacakan
Shalawat untuknya, yang pada hakikatnya Shalawat yang kita baca manfaatnya
bukan untuknya. Melainkan bermanfaat bagi umat yang dicintainya yaitu diri kita
semua.
Ibarat sebuah gelas yang penuh
terisi air, tetapi masih tak henti-henti gelas itu dukucuri air, tentu air itu
akan mengalir kepada sekelilingnya. Begitulah kiranya dengan Nabi Muhammad Saw,
yang pada dirinya tak terdapat sedikitpun dosa, sedangkan para umatnya
senantiasa membacakan doa doa Shalawat untuknya, maka manfaat dari doa doa
Shalawat itu akan kembali kepada para pembaca.
Sahabatku,
Begitu mulianya risalah yang
dibawa Rasulullah Saw. Sungguh tegakah kita kepadanya yang seluruh hidupnya
dicurahkan untuk menanamkan kebenaran untuk menyelamatkan kita dari jurang
kegelapan, kemudian dengan sadar kita menyepelekan ajarannya? Tak tahukah bahwa
dengan mencintainya akan menghindarkan diri ini dari panasnya api neraka dan
dengan mencintai dan mentaati risalahnya akan diampuni segala dosa dosa kita?
“Katakanlah: ‘jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku,
niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu, ‘Allah Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang.” (QS: Ali Imran: 31)
Dikisahkan dari Annas bin Malik
ra bahwa Rasulullah Saw bersabda:
“Tidak sempurna iman seseorang di
antara kalian, sehingga aku lebih dicintai daripada anak, orang tua, dan umat
manusia lainnya.”
Hadits di atas menunjukan bahwa
apabila kita menginginkan iman yang sempurna setelah beriman kepada Allah, maka
kita harus mengimani Rasulullah selaku utusanNya. Siapapun di antara kita yang
terus berusaha untuk mempunyai iman yang sempurna insya Allah akan selalu
dicintai oleh Allah dan dicintai Rasulullah.
Ibarat seorang ingin memancing
ikan yang besar, maka ia harus memberikan umpan yang lezat atau yang disukai
ikan tersebut, sehingga dapat menarik perhatian. Begitupula kita, sebagai
seorang hamba dalam ‘memancing’ kemurahan Allah Swt yakni dengan mencintai
utusanNya yang paling dicintaiNya, yakni Rasulullah Saw.
Apabila kita mencintai
Rasulullah, maka cinta Rasulullah kepada kita laksana magnet yang mampu menarik
kemurahan Allah Swt kepada kita. Itulah sebab, umat yang mencintai Rasulullah
mendapatkan keistimewaan khusus dibandingkan umat-umat lain.
Jadi, kira-kira gitu guys tulisan
mas Ishaq Ahmad, bagian ini yang bikin saya tersentil. Banyak disekeliling kita
yang berkorban dalam pencapaian diri untuk hidupnya didunia, ada juga yang
mati-matian berkorban untuk orang lain yang dicintainya, rela melakukan ini dan
itu yang jelas-jelas belum tentu pahalanya ada. Beda dengan pengorbanan
orangtua untuk anaknya, atau pengorbanan anak dalam membahagiakan orangtuanya,
itu jelasssss semua berpahala apabila karena Allah. Lalu, bagaimana dengan dua
insan yang belum ada ikatan????? Harusnya malu (ini ngatain diri sendiri juga),
karena sebenernya ada yang lebih mencintai kita, sampai-sampai di akhir
hidupnya masih memikirkan kita. Tidak akan pernah ada yang demikian cintanya
seperti itu kepada kita. Karena sakaratul maut udah gak fokus tuh buat mikirin
orang lain, sangking hebatnya rasa sakit... jangan sia-siain rasa cinta yang
sudah Rasulullah berikan untuk kita, walaupun kita gak pernah ketemu dengan
beliau..
Jangan lupa bercita-cita bertemu
Rasulullah Saw di JannahNya yah...
Kalau kalian yang baca postingan
ini, kelak di syurga kalian tidak menemukan saya, maka jemput saya untuk
sama-sama dengan kalian di syurga yah...
Ya Allah....
Wassalamualaikum Warahmatullahi
Wabarakatuh...
Komentar
Posting Komentar